headerphoto

H MS.KABAN SE.,MSi; Aktivis, Politisi, dan Birokrat Di Jalan Syariat

Senin, 26 Oktober 2009 12:23:09 - oleh : admin

MS KabanMengenal H MS. Kaban
     Kaban bernama lengkap, Malem Sambat Kaban, sebagai putera Binjai berdarah Karo, lahir di Binjai, Sumatera Utara pada tanggal 05 Agustus 1958. Kaban adalah putra dari pasangan AM Kaban (alm), seorang pedagang dan S.Tarigan, seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak keenam dari sebelas bersaudara. Sebuah keluarga Batak di Sumatera Utara, yang taat pada adat. Maka nama anaknya ini diberikan nama adat, yaitu Malem Sambat di depan marga Kaban. Malem itu artinya baik. Sambat artinya menolong. Jadi Malem Sambat artinya orang yang baik dan suka menolong. Kaban menikah dengan Nurmala Dewi dan memiliki tujuh anak, yaitu : Nur Sabil Mahsyar Kaban, Abdul Manan Akbar Kaban, Salam Kaban, Rabani Kaban, Muhammad Cholish Kaban, Rizal Maulana Kaban dan Nurlina Kaban.
     Kaban dikenal sebagai anggota DPR dan MPR, dan salah satu petinggi Partai Bulan Bintang sebelum diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Kehutanan (Menhut) di Kabinet Indonesia Bersatu. Pada 1 Mei 2005, H MS.Kaban diangkat sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) periode 2005-2010.

Sebagai Aktivis Mahasiswa dan Memilih Islam
     Menteri Kehutanan RI periode 2004-2009 ini memulai pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Deli Serdang, SMP Deli Serdang. Setelah tamat SMP, Kaban pindah ke Medan dan sekolah di SMA Negeri 7 Medan. Setamat SMA, Kaban hijrah ke Jakarta karena terobsesi dengan perjuangan aktivis mahasiswa pada dasawarsa 1970-an. Kaban masuk Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta. Lalu Kaban sempat masuk Resimen Mahasiswa. Saat mahasiswa itulah Kaban berikrar masuk Islam tahun 1980-an dan aktif di organisasi mahasiswa Islam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kaban sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengikuti pelatihan keorganisasian sekitar 1979-an dan menjadi Ketua Umum HMI Cabang Jakarta periode tahun 1985-1986.
     Kepemimpinan HMI di zaman Kaban adalah di masa Pemerintah berkehendak melakukan unifikasi ideologi dalam setiap Organisasi Massa (Ormas) dan Organisasi Politik (Orpol). HMI sebagai Ormas kemahasiswaan saat itu tidak lagi memiliki teman dalam mempertahankan ideologi organisasi yang selama ini menjadi asasnya yaitu Islam. NU (Nahdatul Ulama) melalui Muktamar Situbondo pada tahun 1984 telah bulat menerima asas Pancasila. Begitu juga Muhammadiyah lewat Muktamar di Solo pada tahun 1985 juga menerima Pancasila sebagai asasnya. Memang suasana kala itu organisasi terpilah dengan rekan-rekan aktivis yang bersikap cepat dalam menerima asas Pancasila dengan mereka yang menginginkan pengakuan asas tunggal Pancasila dilakukan di forum resmi yang akan digelar di Padang (1986). Kaban adalah salah seorang pimpinan Cabang HMI yang berpandangan penerimaan asas Pancasila harus di forum resmi. Sikap ini juga yang membuat Kaban tidak sampai ikut pada Kongres HMI di Padang, karena kepengurusannya sudah lebih dahulu ditransitifkan kepada almarhum Ponsterling Harahap.

Intelektualitasnya Kental Dengan Referensi Qur'an
     Setelah menamatkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Kaban berkecimpung dalam pengembangan Sumber Daya manusia di Jakarta Public Relation. Kaban terjun meneliti potensi ekonomi Wilayah Taman Gunung Leuser pada 1992, Ketua tim Penelitian Potensi Ekonomi Lemah di tahun 1993, peneliti muda pada studi pengkajian Strategi Pengusahaan Anak Perusahaan Joint Venture Pertamina pada 1994 dan aktif mengikuti berbagai penelitian lain. Kaban yang kemudian meraih gelar S2 dari program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), aktif pula sebagai pengajar di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Kaban pun sempat menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Ibnu Khaldun. Hingga kini, masih tetap mengajar mata kuliah Ekonomi Mikro Syariah. Kemudian, setelah reformasi bergulir, Kaban pun terjun ke dunia politik. Pemilu 1999 Kaban terplih menjadi anggota DPR-RI.
     Kelebihan Kaban di antara kawan seangkatannya adalah kelebihan intelektualitas yang dipunyainya. Selain itu fleksibilitas pergaulan yang dimiliki, serta dibarengi dengan kemampuan dalam kepemimpinan. Kaban banyak menanamkan kebaikan dengan mengatur tata pergaulannya dengan banyak kawan dan banyak pihak. Seakan telah menjadi perilaku otomatis untuk memperluas pertemanan, persaudaraan dengan tanpa reserve. Beliau berprasangka baik kepada semua orang. Beliau menduga semua kebaikan akan berbalas kebaikan juga, inilah satu hal yang menonjol pada diri Kaban. Bahkan tingkat intelektualitasnya sangat kental dengan referensi Qur'an, dan sangat menonjol dengan pengetahuan tarikh dan risalah Rasulullah Saw.

kaban+charleskaban tanam pohon2


Tidak Mimpi Jadi Menteri

     Walau sudah menjabat Sekretaris Jenderal DPP Partai Bulan Bintang dan kemudian duduk sebagai anggota DPR/MPR dua kali, yaitu hasil Pemilu 1999 dan 2004, Kaban tak pernah bermimpi, apalagi berambisi, menjadi Menteri. Walaupun Partainya, Partai Bulan Bintang menjadi salah satu pendukung utama, sejak putaran pertama hingga putaran kedua pencalonan pasangan Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Calon Wakil Presiden Muhammad Yusuf Kalla, yang kemudian menjadi pemenang. Menurutnya, hanya nasib baik saja yang mengantarnya jadi Menteri. Disebut nasib baik, karena memang Kaban merasakan demikian.

Diplomasi Hutan Ala Kaban

     Dalam upaya rehabilitasi hutan dan konservasi sumberdaya hutan, Kaban mendapatkan dukungan dari 29 Pimpinan Ormas dan Perguruan Tinggi sebagai mitra kerja. Pada tanggal 17 November 2006, di Hanoi, Vietnam, di sela-sela pertemuan APEC, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani MoU on Combatting Illegal Logging and Association Trade. Berlanjut ke Uni Eropa kesepakatan Kemitraan Sukarela (Voluntary Partnership Agreement) melalui FLEGT yang akan memberikan jaminan bahwa produk hutan Indonesia yang masuk ke Eropa adalah produk legal. Bersama rekannya yaitu Menteri Lingkungan Brazil, Dr.Marina Silva, Menhut HMS. Kaban melakukan kerjasama antara kedua Negara di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Dalam kunjungannya ke Inggris (18-21 April 2007), Menhut HMS. Kaban langsung mengundang Pangeran Charles untuk berkunjung ke Indonesia, setelah satu tahun akhirnya Pangeran Charles memenuhi undangan kunjungan ke Indonesia (2-7 Nopember 2008) yang disampaikan Menhut HMS. Kaban. Pada akhirnya HMS.Kaban Memperoleh Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa Bidang Kehutanan dari Kangwon National University of Korea pada bulan Juni 2007. Pengakuan penghargaan Dunia Internasional melalui United Nations Environment Programme (UNEP) karena Departemen Kehutanan mampu merehabilitasi  hutan-hutan yang ada dan tumbuhnya semangat menanam dari seluruh lapisan masyarakat, penghargaan tersebut disampaikan pada tanggal 12 Mei 2008 disela-sela pertemuan Komisi Pembangunan Berkelanjutan (KPB) ke - 16 di New York.

kaban&charles

kaban tanam pohon

Berita "Sosok & Profil" Lainnya